Jumat, 19 Desember 2014

T-Koes, Konser Pulang Kampung





“ Sudah makan belum…??” demikian sapa Galih, vokalis T Koes menyapa pengunjung yang hadir dalam pementasan mereka yang berlangsung di kota Malang belum lama ini. Sapaan khas itu tentu disambut dengan tawa dan sorakan gembira penonton yang teringat akan kata pembuka yang sering diucapkan oleh Tonny Koeswoyo kala manggung bersama Koes Plus.

Saat itu Minggu malam pkl. 21.00, T-Koes melakukan konser pulang kampung yang berlangsung di salah satu sudut kota Malang. Setelah sehari sebelumnya sukses menggelar dua kali pertunjukan di sebuah rumah makan di kawasan barat kota Surabaya, pada 14 Desember 2014 T-Koes mengunjungi kota dingin yang terkenal dengan hasil bumi apelnya itu. Jika pada penampilan di Surabaya sifatnya hanya uji coba, maka ketika tampil di Malang Agusta menjanjikan akan tampil lebih serius dengan persiapan yang matang. Perkataan ini ternyata mampu dibuktikan dengan penampilan yang maksimal oleh grup muda bersaudara ini.

T-Koes yang tampil sebagai pembuka acara mengawali dengan tembang legendaris yaitu Laguku Sendiri yang kemudian dirangkai sebuah lagu dari album Hard Beat yaitu Jangan Memaksakan Diri. Pada awal penampilan Agusta tidak lupa menyampaikan rasa syukurnya karena pada akhirnya mampu memenuhi janji untuk tampil di kota Malang. Betapa tidak, setelah beberapa kali even disusun namun tertunda pula karena tidak cocoknya waktu penyelenggaraan dengan jadwal T-Koes yang sudah semakin padat.
Secara resmi acara ini berjudul “Konser Amal Untukmu” yang terselenggara atas prakarsa KPKA (Komunitas Penggemar Koes Plus Arema) bekerja sama dengan beberapa pihak. Namun secara tidak resmi, Agusta menamakan konser kali ini sebagai konser pulang kampung. Hal ini mengingat secara pribadi dia merupakan putra daerah yang dilahirkan di desa Gondang Legi, Kabupaten Malang. ( Wah, podo sam karo kawa, podo soko ndeso nGondang Legine…hehehe…). Bahkan tak segan dia menyebut T-Koes sebagai band yang berasal dari ndeso. Namun hal ini tentu saja sedikit berlebihan, mengingat yang dari desa tentu saja hanya Agusta seorang, yang lain tetap saja produk ibu kota.
Kembali pada arena pertunjukan, kelihaian T-Koes dalam meramu lagu-lagu Koes Plus merupakan nilai lebih tersendiri yang jarang dimiliki oleh band lain. Betapa tidak, lagu-lagu Koes Plus yang disajikan memang tidak lepas dari pakem aslinya namun karena dibawakan secara enerjik dan penuh semangat khas anak muda, maka membuat siapa pun yang melihatnya tidak akan merasa jenuh dan bosan. Hal ini bisa dilihat dari komposisi lagu yang dibawakan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan band pelestari lain bahkan sebagian besar sudah dibawakan oleh dua band pembuka, namun karena penampilan yang sangat menarik membuat siapa pun yang hadir akan bertahan hingga usai acara.
Duet Galih dan Jim yang bereran sebagai Yon dan Yok teruji dengan baik ketika Hatiku dan Hatimu serta Senja dibawakan dengan perpaduan vocal yang apik. Tarikan nafas mereka dalam mengawali dan mengakhiri lagu membuat mereka layak dijadikan idola baru dalam pelestarian lagu-lagu Koes Bersaudara & Koes Plus. Keserasian T-Koes dalam bergaya tampak menawan ketika beberapa lagu riang dibawakan seperti Bis Sekolah, Diana dan O La La. Bahkan lagu Oh Kasihan yang biasanya diikuti dengan senggakan kala dibawakan di Jawa Tengah, ketika dibawakan oleh T-Koes lagu ini terdengar tetap elegan dan menarik sekalipun tidak diikuti oleh sahutan penonton pada bagian refrreinnya.
Gaya T-Koes terlihat atraktif dan menarik salah satu diantaranya ketika membawakan lagu berirama rancak pada bagian interlude mereka tak segan untuk berloncat bersama sambil berputar badan. Hal ini membuat ketiga personel utama yang merupakan adik kakak ini mendapatkan aplaus meriah dari penonton. Para penggemar Koes Plus yang memadati area café semakin dibuat histeris kala ketiga personel ini mengangkat gitar mereka usai mendendangkan Kelelawar. Gaya yang sering kita lihat pada penampilan grup luar macam Deep Purple atau Van Hallen.

Sementara itu Agusta selaku leader yang berada pada posisi drum lebih memilih untuk mengambil bagian memberi edukasi tentang pelestarian Koes Plus atau pun berupa kisah dibalik lagu yang dibawakan saat itu. Sebagaimana yang dikisahkan ketika dia berkisah ada seseorang pria yang akan mengunjungi kekasih hatinya namun ternyata sang kekasih sudah dihampiri oleh pria lain. Maka nelangsalah hati pria tersebut padahal sudah mengenakan baju yang paling bagus. Kisah tesebut diucapkannya menyusul lagu Senja Kelabu yang berikutnya dibawakan oleh T-Koes. Bahkan ketika Kusayang Padanya dibawakan dia secara jujur mengakui bahwa lagu ini Koes Plus seperti mengikuti gaya lagu yang dinyanyikan oleh Chrisye. Sehingga Koes Plus yang sebelumnya pelopor harus tertinggal karena kalah oleh arus industri yang tidak lagi berpihak pada mereka. Mendengar Agusta beberapa kali bertutur sebelum lagu dibawakan serasa mendengarkan siaran radio secara live pada acara “The Legend” yang mengulas tentang Koes Plus.

Suasana malam itu makin semarak ketika beberapa lagu Pop Melayu dibawakan oelh T-Koes. Mengapa dan Cinta Mulia mampu membuat penonton beranjak dari sofa empuk untuk berjoget bersama. Bahkan suasana makin terasa panas ketika tembang dari album Hard Beat yaitu Luka dibawakan secara garang. Lagu Jawa Tul Jaenak pun mampu dibawakan dengan baik  bahkan mereka berusaha merekonstruksi gaya Koes Plus era 1998 ketika membawakan lagu ini dengan mempercepat bagian coda. Dalam penampilan di Malang kali ini T-Koes mencoba berduet dengan salah seorang yang pernah memiliki peran penting dalam perjalanan karier Koes Plus. Koestono yang merupakan mantan pengawal era Koes Bersaudara dan Koes Plus saat itu hadir dan turut menyumbangkan suaranya melagukan “Let Me Free” yang dapat diiringi dengan baik oleh T-Koes. Koestono secara pribadi puas terhadap penampilan T-Koes bahkan menurutnya merupakan band pelestari terbaik dari yang pernah dilihatnya selama ini.

Galih yang berusia enam belas tahun sudah cukup menguasai panggung dan tidak canggung menyapa penonton yang sudah pasti lebih tua darinya dengan sebutan “pakdhe-budhe”. Jim yang maish berusia empat belas tahun juga mampu menyuarakan lagu yang menjadi bagian Yok Koeswoyo dengan baik. Malam itu dia memilih membawakan Mawar Bunga, Kolam Susu dan Jemu untuk disajikan. Konon bass gitar yang disandangnya malam itu adalah salah satu bass koleksi Yok Koeswoyo yang dihibahkan pada Jim. Sementara sang “Tonny Koeswoyo” memilih melagukan Jangan Berulang Lagi, Kr. Pertemuan dan Rata-Rata sebagai menu secara solo.

Malam itu di sela acara pengunjung diberikan kesempatan untuk memberikan sumbangan amal yang akan disalurkan pada salah satu panti asuhan. Sumbangan tersebut diberikan dengan dua cara, yaitu donasi uang secara langsung atau pemesanan makanan yang sepuluh persen dari harga pembayaran digunakan untuk sumbangan tersebut. Sebelum penampilan T-Koes berlangsung, dua band pelestari lokal hadir untuk membuka acara. Yang pertama adalah C-O2 yang dipimpin oleh Agoes Basuki, ketua KPKA Malang. Berikutnya yaitu band yang terdiri dari anak-anak eks SMAN 7 Malang yang bernama Koes On 7.

Agusta sendiri tidak ikut menyanyikan lagu pada malam itu. dia memilih peran sebagai pembimbing, pembina bagi anak-anak asuhannya yang tampil di depan. Dalam salah satu kesempatan dia mengungkapkan bahwa T-Koes mengambil porsi khusus menyanyikan lagu-lagu Koes Bersaudara & Koes Plus sampai era 1987. Namun pada malam itu dia memberikan semacam bonus dengan meluncurnya Gadis Genit yang dirilis Koes Plus pada tahun 1998 untuk dinyanyikan dengan lincah oleh T-Koes. Secara istimewa, tembang Kota Lama ditujukan untuk warga Kota Malang yang malam itu hadir. Lagu ini tentu menjadi persembahan istimewa, mengingat sebagian besar penggemar Koes Plus di kota Malang beranggapan bahwa lagu ini merujuk pada salah satu wilayah di kota mereka.

Konser amal ini berlangsung berkat kerja sama yang baik dengan Anang Karaoke & Café yang menjadi tempat penyelenggaraan. Tempat karaoke yang dimiliki oleh penyanyi asal Jember ini menjadikan penyelenggaraan acara berjalan mulus dengan penataan sound system yang bagus dan hampir tanpa cela. Hadir pula pada kesempatan itu beberapa penggemar Koes Plus dari luar Malang diantaranya berasal dari Surabaya, Gresik dan Blitar. Selain juga dari wilayah Malang Raya yaitu Lawang, Turen, Batu dan sekitarnya.

Tepat pkl. 23.10 acara malam itu berakhir dengan kepuasan pengunjung dan kesuksesan T-Koes. Sebagai lagu penutup disajikan Selamat Berpisah tanda berakhirnya acara. Namun karena pengunjung masih meminta tambahan lagu maka meluncurlah Pelangi sebagai pamungkas acara. Sebagai catatan, bila lain kali kita menyaksikan penampilan T-Koes dan dibuka dengan salam “Sudah makan belum ?”, tidak ada salahnya kita menjawab belum, siapa tahu pihak manajemen T-Koes menyediakan makan malam bagi kita yang menyaksikan penampilan mereka….heheheheh…J

Adapun lagu-lagu yang dihidangkan oleh T-Koes secara lengkap yaitu : Laguku Sendiri, Jangan Memaksakan Diri, Bis Sekolah, Hatiku Hatimu, Oh Kasihan, Senja, Diana, Jangan Berulang lagi, Jemu, Tul Jaenak, Why Do You Love Me, O La La, Cintamu Tlah Berlalu, Gadis Genit, Kisah Sedih Di Hari Minggu, Hatiku Beku, Kelelawar, Cinta Mulia, Mengapa, Mawar Bunga, Malam Ini, Let Me Free, Kusayang Padanya, Luka, Kolam Susu, Kr. Pertemuan, Kota Lama, Hari Ini, Senja Kelabu, Bunga Di Tepi Jalan, Terlambat, Rata-Rata, Selamat Berpisah, Pelangi.

Demikian yang dapat kami sajikan mengenai penampilan T-Koes dalam rangka pulang kampung di kota Malang. Mohon maaf untuk setiap rangkaian kata dan kalimat yang kurang berkenan. Maju terus T-Koes dalam menyuarakan lagu-lagu Koes Plus bagi generasi muda.

(Okky T. Rahardjo, penggemar Koes Bersaudara & Koes Plus dari Surabaya—085645705091 )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar