Jumat, 19 Desember 2014

T-Koes, Konser Pulang Kampung





“ Sudah makan belum…??” demikian sapa Galih, vokalis T Koes menyapa pengunjung yang hadir dalam pementasan mereka yang berlangsung di kota Malang belum lama ini. Sapaan khas itu tentu disambut dengan tawa dan sorakan gembira penonton yang teringat akan kata pembuka yang sering diucapkan oleh Tonny Koeswoyo kala manggung bersama Koes Plus.

Saat itu Minggu malam pkl. 21.00, T-Koes melakukan konser pulang kampung yang berlangsung di salah satu sudut kota Malang. Setelah sehari sebelumnya sukses menggelar dua kali pertunjukan di sebuah rumah makan di kawasan barat kota Surabaya, pada 14 Desember 2014 T-Koes mengunjungi kota dingin yang terkenal dengan hasil bumi apelnya itu. Jika pada penampilan di Surabaya sifatnya hanya uji coba, maka ketika tampil di Malang Agusta menjanjikan akan tampil lebih serius dengan persiapan yang matang. Perkataan ini ternyata mampu dibuktikan dengan penampilan yang maksimal oleh grup muda bersaudara ini.

T-Koes yang tampil sebagai pembuka acara mengawali dengan tembang legendaris yaitu Laguku Sendiri yang kemudian dirangkai sebuah lagu dari album Hard Beat yaitu Jangan Memaksakan Diri. Pada awal penampilan Agusta tidak lupa menyampaikan rasa syukurnya karena pada akhirnya mampu memenuhi janji untuk tampil di kota Malang. Betapa tidak, setelah beberapa kali even disusun namun tertunda pula karena tidak cocoknya waktu penyelenggaraan dengan jadwal T-Koes yang sudah semakin padat.
Secara resmi acara ini berjudul “Konser Amal Untukmu” yang terselenggara atas prakarsa KPKA (Komunitas Penggemar Koes Plus Arema) bekerja sama dengan beberapa pihak. Namun secara tidak resmi, Agusta menamakan konser kali ini sebagai konser pulang kampung. Hal ini mengingat secara pribadi dia merupakan putra daerah yang dilahirkan di desa Gondang Legi, Kabupaten Malang. ( Wah, podo sam karo kawa, podo soko ndeso nGondang Legine…hehehe…). Bahkan tak segan dia menyebut T-Koes sebagai band yang berasal dari ndeso. Namun hal ini tentu saja sedikit berlebihan, mengingat yang dari desa tentu saja hanya Agusta seorang, yang lain tetap saja produk ibu kota.
Kembali pada arena pertunjukan, kelihaian T-Koes dalam meramu lagu-lagu Koes Plus merupakan nilai lebih tersendiri yang jarang dimiliki oleh band lain. Betapa tidak, lagu-lagu Koes Plus yang disajikan memang tidak lepas dari pakem aslinya namun karena dibawakan secara enerjik dan penuh semangat khas anak muda, maka membuat siapa pun yang melihatnya tidak akan merasa jenuh dan bosan. Hal ini bisa dilihat dari komposisi lagu yang dibawakan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan band pelestari lain bahkan sebagian besar sudah dibawakan oleh dua band pembuka, namun karena penampilan yang sangat menarik membuat siapa pun yang hadir akan bertahan hingga usai acara.
Duet Galih dan Jim yang bereran sebagai Yon dan Yok teruji dengan baik ketika Hatiku dan Hatimu serta Senja dibawakan dengan perpaduan vocal yang apik. Tarikan nafas mereka dalam mengawali dan mengakhiri lagu membuat mereka layak dijadikan idola baru dalam pelestarian lagu-lagu Koes Bersaudara & Koes Plus. Keserasian T-Koes dalam bergaya tampak menawan ketika beberapa lagu riang dibawakan seperti Bis Sekolah, Diana dan O La La. Bahkan lagu Oh Kasihan yang biasanya diikuti dengan senggakan kala dibawakan di Jawa Tengah, ketika dibawakan oleh T-Koes lagu ini terdengar tetap elegan dan menarik sekalipun tidak diikuti oleh sahutan penonton pada bagian refrreinnya.
Gaya T-Koes terlihat atraktif dan menarik salah satu diantaranya ketika membawakan lagu berirama rancak pada bagian interlude mereka tak segan untuk berloncat bersama sambil berputar badan. Hal ini membuat ketiga personel utama yang merupakan adik kakak ini mendapatkan aplaus meriah dari penonton. Para penggemar Koes Plus yang memadati area café semakin dibuat histeris kala ketiga personel ini mengangkat gitar mereka usai mendendangkan Kelelawar. Gaya yang sering kita lihat pada penampilan grup luar macam Deep Purple atau Van Hallen.

Sementara itu Agusta selaku leader yang berada pada posisi drum lebih memilih untuk mengambil bagian memberi edukasi tentang pelestarian Koes Plus atau pun berupa kisah dibalik lagu yang dibawakan saat itu. Sebagaimana yang dikisahkan ketika dia berkisah ada seseorang pria yang akan mengunjungi kekasih hatinya namun ternyata sang kekasih sudah dihampiri oleh pria lain. Maka nelangsalah hati pria tersebut padahal sudah mengenakan baju yang paling bagus. Kisah tesebut diucapkannya menyusul lagu Senja Kelabu yang berikutnya dibawakan oleh T-Koes. Bahkan ketika Kusayang Padanya dibawakan dia secara jujur mengakui bahwa lagu ini Koes Plus seperti mengikuti gaya lagu yang dinyanyikan oleh Chrisye. Sehingga Koes Plus yang sebelumnya pelopor harus tertinggal karena kalah oleh arus industri yang tidak lagi berpihak pada mereka. Mendengar Agusta beberapa kali bertutur sebelum lagu dibawakan serasa mendengarkan siaran radio secara live pada acara “The Legend” yang mengulas tentang Koes Plus.

Suasana malam itu makin semarak ketika beberapa lagu Pop Melayu dibawakan oelh T-Koes. Mengapa dan Cinta Mulia mampu membuat penonton beranjak dari sofa empuk untuk berjoget bersama. Bahkan suasana makin terasa panas ketika tembang dari album Hard Beat yaitu Luka dibawakan secara garang. Lagu Jawa Tul Jaenak pun mampu dibawakan dengan baik  bahkan mereka berusaha merekonstruksi gaya Koes Plus era 1998 ketika membawakan lagu ini dengan mempercepat bagian coda. Dalam penampilan di Malang kali ini T-Koes mencoba berduet dengan salah seorang yang pernah memiliki peran penting dalam perjalanan karier Koes Plus. Koestono yang merupakan mantan pengawal era Koes Bersaudara dan Koes Plus saat itu hadir dan turut menyumbangkan suaranya melagukan “Let Me Free” yang dapat diiringi dengan baik oleh T-Koes. Koestono secara pribadi puas terhadap penampilan T-Koes bahkan menurutnya merupakan band pelestari terbaik dari yang pernah dilihatnya selama ini.

Galih yang berusia enam belas tahun sudah cukup menguasai panggung dan tidak canggung menyapa penonton yang sudah pasti lebih tua darinya dengan sebutan “pakdhe-budhe”. Jim yang maish berusia empat belas tahun juga mampu menyuarakan lagu yang menjadi bagian Yok Koeswoyo dengan baik. Malam itu dia memilih membawakan Mawar Bunga, Kolam Susu dan Jemu untuk disajikan. Konon bass gitar yang disandangnya malam itu adalah salah satu bass koleksi Yok Koeswoyo yang dihibahkan pada Jim. Sementara sang “Tonny Koeswoyo” memilih melagukan Jangan Berulang Lagi, Kr. Pertemuan dan Rata-Rata sebagai menu secara solo.

Malam itu di sela acara pengunjung diberikan kesempatan untuk memberikan sumbangan amal yang akan disalurkan pada salah satu panti asuhan. Sumbangan tersebut diberikan dengan dua cara, yaitu donasi uang secara langsung atau pemesanan makanan yang sepuluh persen dari harga pembayaran digunakan untuk sumbangan tersebut. Sebelum penampilan T-Koes berlangsung, dua band pelestari lokal hadir untuk membuka acara. Yang pertama adalah C-O2 yang dipimpin oleh Agoes Basuki, ketua KPKA Malang. Berikutnya yaitu band yang terdiri dari anak-anak eks SMAN 7 Malang yang bernama Koes On 7.

Agusta sendiri tidak ikut menyanyikan lagu pada malam itu. dia memilih peran sebagai pembimbing, pembina bagi anak-anak asuhannya yang tampil di depan. Dalam salah satu kesempatan dia mengungkapkan bahwa T-Koes mengambil porsi khusus menyanyikan lagu-lagu Koes Bersaudara & Koes Plus sampai era 1987. Namun pada malam itu dia memberikan semacam bonus dengan meluncurnya Gadis Genit yang dirilis Koes Plus pada tahun 1998 untuk dinyanyikan dengan lincah oleh T-Koes. Secara istimewa, tembang Kota Lama ditujukan untuk warga Kota Malang yang malam itu hadir. Lagu ini tentu menjadi persembahan istimewa, mengingat sebagian besar penggemar Koes Plus di kota Malang beranggapan bahwa lagu ini merujuk pada salah satu wilayah di kota mereka.

Konser amal ini berlangsung berkat kerja sama yang baik dengan Anang Karaoke & Café yang menjadi tempat penyelenggaraan. Tempat karaoke yang dimiliki oleh penyanyi asal Jember ini menjadikan penyelenggaraan acara berjalan mulus dengan penataan sound system yang bagus dan hampir tanpa cela. Hadir pula pada kesempatan itu beberapa penggemar Koes Plus dari luar Malang diantaranya berasal dari Surabaya, Gresik dan Blitar. Selain juga dari wilayah Malang Raya yaitu Lawang, Turen, Batu dan sekitarnya.

Tepat pkl. 23.10 acara malam itu berakhir dengan kepuasan pengunjung dan kesuksesan T-Koes. Sebagai lagu penutup disajikan Selamat Berpisah tanda berakhirnya acara. Namun karena pengunjung masih meminta tambahan lagu maka meluncurlah Pelangi sebagai pamungkas acara. Sebagai catatan, bila lain kali kita menyaksikan penampilan T-Koes dan dibuka dengan salam “Sudah makan belum ?”, tidak ada salahnya kita menjawab belum, siapa tahu pihak manajemen T-Koes menyediakan makan malam bagi kita yang menyaksikan penampilan mereka….heheheheh…J

Adapun lagu-lagu yang dihidangkan oleh T-Koes secara lengkap yaitu : Laguku Sendiri, Jangan Memaksakan Diri, Bis Sekolah, Hatiku Hatimu, Oh Kasihan, Senja, Diana, Jangan Berulang lagi, Jemu, Tul Jaenak, Why Do You Love Me, O La La, Cintamu Tlah Berlalu, Gadis Genit, Kisah Sedih Di Hari Minggu, Hatiku Beku, Kelelawar, Cinta Mulia, Mengapa, Mawar Bunga, Malam Ini, Let Me Free, Kusayang Padanya, Luka, Kolam Susu, Kr. Pertemuan, Kota Lama, Hari Ini, Senja Kelabu, Bunga Di Tepi Jalan, Terlambat, Rata-Rata, Selamat Berpisah, Pelangi.

Demikian yang dapat kami sajikan mengenai penampilan T-Koes dalam rangka pulang kampung di kota Malang. Mohon maaf untuk setiap rangkaian kata dan kalimat yang kurang berkenan. Maju terus T-Koes dalam menyuarakan lagu-lagu Koes Plus bagi generasi muda.

(Okky T. Rahardjo, penggemar Koes Bersaudara & Koes Plus dari Surabaya—085645705091 )


Rabu, 17 Desember 2014

B Flat, Tetap Memikat Penggemar Koes Plus Di Kota Madiun



Heboh dan rame…itulah kesan setiap kali nonton penampilan band pelestari yang satu ini saat menyuarakan lagu-lagu Koes Plus di kota Madiun. Pada suatu malam yang dibasahi oleh guyuran air hujan yang tidak kunjung reda sejak usai maghrib, warga kota Madiun yang juga merangkap sebagai penggemar Koes Plus sudah bersiap diri menuju sebuah titik. Saat itu mereka seperti dilanda kehausan oleh hiburan berupa tembang-tembang Koes Plus yang akan dibawakan oleh band pelestari kesayangan warga Kota Madiun. Tepat sekali, saat itu B Flat sedang hadir untuk menghibur warga Madiun dan sekitarnya.

Sebuah titik yang dituju yaitu Fire Club sebuah tempat hiburan malam yang populer di kalangan warga kota Madiun. Tepat pkl. 23.00, B Flat sudah bersiap diri di panggung utama menggantikan home band Fire yang selama beberapa waktu menghibur pengunjung dengan lagu-lagu top 40 baik Indonesia maupun mancanegara. Malam itu B Flat kembali mengisi regularitas sebagai pendendang lagu-lagu Koes Plus di Fire Club. Setidaknya setahun sekali B Flat dapat dipastikan mengisi hiburan di tempat hiburan yang menawarkan fasilitas karaoke dan diskotik ini. Hal ini sudah dilakukan mereka selama kurang lebih dua puluh tahun tanpa terputus dan kehadirannya selalu dinantikan oleh penggemar Koes Plus di kota ini.

Keempat personel B Flat tanpa banyak basa-basi di awal penampilan langsung menggebrak dengan lagu karya Murry yang berjudul “Bersama Lagi”. Sebuah tembang yang mengisahkan sebuah kerinduan untuk berjumpa dan tidak ingin berpisah lagi. Satu lagi langkah kreatif sebuah band pelestari yang patut diacungi jempol. Di kala sebagian besar band pelestari memilih langkah untuk membuka acara dengan Laguku Sendiri, B Flat menjadi salah satu band yang berbeda langkah. Vokal empuk Wahyu yang ditimpali serangkaian vokal oleh Arwet, Hans dan Arif mampu mengembalikan lagu ini benar-benar serasa dibawakan oleh Koes Plus sang penyanyi aslinya.

Tembang Kembali menjadi pilihan berikutnya yang mampu menyemarakkan suasana. Saat memasuki bagian reffrein lagu, terdengar seperti alunan koor massal yang disuarakan oleh pengunjung yang memadati tempat hiburan yang terletak di pusat kota Madiun itu. Hans yang mengawali dengan teriakan “ooh..ooh…” seakan merupakan aba-aba untuk semua yang hadir menyanyikan lanjutan lagu itu secara bersama-sama. Setelah Kembali sukses mendarat dengan mulus, barulah Arwet menyampaikan kata-kata pembuka sambil menyapa para pengunjung, secara khusus pada beberapa tokoh yang malam itu ikut hadir termasuk diantaranya mantan walikota Madiun yaitu Kokok Raya.

Berikutnya secara bertubi-tubi B Flat melontarkan tembang-tembang populer karya Koes Plus, yang mampu diikuti dengan baik oleh penonton yang sudah mulai beranjak dari tempat duduk untuk berdiri di depan panggung. Dara Manisku, Manis dan Sayang atau Muda Mudi mampu diresponi oleh penonton yang sudah makin panas terbawa suasana acara. Mereka bernyanyi, bergoyang, dan sekedar menghentakkan kaki mengikuti irama lagu. Bahkan beberapa orang penonton ada yang memberikan saweran pada B Flat yang dititipkan pada sang vokalis. Arwet sebagai penerima saweran tentu saja gembira dan menyampaikan rasa terima kasihnya dengan kata-kata khasnya yang jenaka dan mengundang pengunjung lain untuk melakukan hal serupa.

B Flat malam itu mampu membuktikan diri bahwa mereka salah satu yang terbaik di kelasnya. Mereka bukan saja menghadirkan nostalgia melalui lagu-lagu Koes Plus yang dibawakan, namun terlebih dari itu juga mampu membawakannya dengan menghibur siapa saja yang melihatnya. Arwet yang sepintas gaya dan vokalnya mirip Yon Koeswoyo pun mampu membawakan acara dengan cair selain kepiawaiannya menyanyikan ulang tembang-tembang legendaris itu. Hans yang menjadi tandem Arwet mampu juga berperan sebagai Yok Koeswoyo dalam mengisi duet vokal.

Demikian juga Arief sang pemencet keyboard dan pemetik melody gitar sudah mampu mengisi posisi sebagai Tonny Koeswoyo melalui lagu-lagu yang dibawakannya secara baik. Adapun drum diisi oleh Wahyu yang pendiam namun mampu menjaga ketukan lagu-lagu Koes Plus secara optimal. Bahkan pembagian lagu sesuai karakter vokal masing-masing pun menunjukkan bahwa mereka bukan band pelestari yang asal-asalan.

Secara individu, berikut tampak keperkasaan masing-masing personel dalam mengolah lagu. Arief yang menyanyikan Jangan Berulang Lagi dan Untukmu. Hans yang melagukan Untuk Dia dan Jemu. Serta Wahyu yang menyanyikan Kembalilah dan Nusantara VII. Tak ketinggalan sang vokalis yang kebagian posisi Yon Koeswoyo dalam lagu Selalu atau pun Doa Suciku. Secara gabungan mereka pun kompak ketika menyanyikan Da Da Da yang terdapat pembagian vokal secara bergantian.

Pentas B Flat seringkali berbeda dibandingkan band pelestari lainnya. Bila band lain hanya mementaskan lagu selama satu atau dua jam, maka B Flat mampu bertahan selama tiga jam lebih. Malam makin larut melewati pkl. 00.00, namun tak tampak tanda-tanda keletihan penonton. Yang ada malah makin larut makin bersemangat dan menambah gairah para pengunjung yang hadir menikmati lagu-lagu Koes Plus. Makin rancak lagu yang dibawakan, makin gencar goyangan kepala dan hentakan kaki penonton. Gelas pun makin banyak berputar….

Beberapa lagu yang dinyanyikan B Flat : Bersama Lagi, Kembali, Dara Manisku, Manis dan Sayang, Muda Mudi, Selalu, Kembalilah, Nusantara VII, Derita, Untukmu, Untuk Dia, Da Da Da, Bujangan, Jangan Berulang lagi, Jemu, Kisah Sedih di Hari Minggu.

Demikian yang dapat kami sajikan mengenai penampilan B Flat di Kota Madiun. Mohon maaf bila ada rangkaian kata dan kalimat yang kurang berkenan. Selamat berjuang B Flat dalam melagukan karya besar Koes Plus.

( Okky T. Rahardjo, penggemar Koes Plus dari Surabaya-085645705091 )

Minggu, 14 Desember 2014

Jenderal (Purn) Subagio HS Nge-Koes Plus Bersama T-Koes Di Surabaya

Jenderal (Purnawirawan) Subagio HS ternyata merupakan salah seorang penggemar berat Koes Plus. Hal itu dibuktikan dengan bersedia didaulat naik ke atas panggung, saat T-Koes sedang melakukan pementasan di salah satu rumah makan di Surabaya. Saat itu ketika T-Koes sedang bersemangat menyanyikan lagu-lagu karya Koes Bersaudara & Koes Plus, tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah pemberitahuan bahwa rumah makan yang berlokasi di kawasan Surabaya Barat itu kedatangan seorang pengunjung istimewa yaitu Jenderal (Purn) Subagio HS yang sedang bersantap malam bersama keluarganya. Kontan saja Galih sang announcer dari T-Koes band mengundang mantan KASAD pada era reformasi itu untuk bersedia melantunkan suaranya menyanyikan lagu Koes Plus.

Tak perlu menunggu lama, dengan fisik yang masih prima, Subagio HS yang masih khas dengan kumis hitamnya itu naik ke atas pentas. Sebuah lagu yang dipilih beliau saat itu adalah Manis dan Sayang. Sebenarnya kalau menyaksikan acara tersebut dari awal, lagu ini sudah dinyanyikan sebelumnya oleh T-Koes namun karena ini merupakan permintaan dari tokoh istimewa maka T-Koes pun tidak mempermasalahkan. Manis dan Sayang pun meluncur dari suara berat khas seorang perwira militer yang pernah menjadi ketua Dewan Kehormatan Perwira itu. Sebagai apresiasi terhadap penampilan T-Koes yang telah mengiringi dengan sempurna, di sela permainan interlude lagu, Subagio sempat berbisik pada Jim tentang nama-nama personel T-Koes untuk selanjutnya disebutkan oleh beliau supaya hadirin memberikan tepuk tangan bagi band yang digawangi personel berusia muda ini.

T-Koes sendiri pada Sabtu malam, 13 Desember 2014 itu menjadi bintang utama dalam perayaan hari jadi radio Sonora yang ke-empat puluh tujuh tahun. Radio yang awalnya bernama Salvatore itu menggelar serangkaian acara dalam rangka ulang tahun dengan berbagai kegiatan yang mendahului berupa donor darah dan senam massal yang diadakan di resto Bandar Djakarta yang berlokasi di jl. HR Muhammad Surabaya. Saat itu resto yang menyediakan kuliner berupa makanan laut tersebut banyak dihadiri oleh keluarga besar Kompas Gramedia Grup, sebuah perusahaan yang menaungi radio Sonora Surabaya.

Saat itu dijelaskan oleh Bowo selaku Director Program Sonora Surabaya bahwa kehadiran T-Koes untuk memeriahkan acara hari jadi radio ini dikarenakan T-Koes merupakan ikon acara “Legend” yang diudarakan setiap hari Selasa malam pkl. 22.00 WIB. Acara yang sebelumnya bernama Koesplusholic itu memang diminati oleh banyak penggemar Koes Plus termasuk di Surabaya. Salah seorang personel T-Koes yang juga narasumber tetap acara “Legend” yaitu Agusta Marshall menyatakan bahwa kehadiran T-Koes di Surabaya ini merupakan semacam uji coba dalam kerja sama dengan Radio Sonora jaringan. Harapannya, ketika kerja sama ini berlangsung dengan baik maka T-Koes akan segera dipanggungkan kembali di beberapa tempat.

T-Koes pada malam itu mampu menyajikan lagu-lagu Koes Plus secara menarik. Dalam arti, lagu-lagu yang disajikan memang berpatokan pada aransemen orisinal Koes Plus namun karena mereka mengemas dengan gaya panggung yang menarik serta perpaduan vokal yang harmonis maka lagu yang sudah berusia puluhan tahun itu tidak terdengar membosankan. Resto yang saat itu dihadiri banyak pengunjung berusia muda pun tampak larut menikmati lagu-lagu Koes Plus yang dibawakan. Kehadiran T-Koes yang atraktif dan komunikatif mampu membuat siapa pun yang hadir ikut bernyanyi dan bergoyang bersama, sehingga tidak tercipta gap generasi Antara lagu yang dinyanyikan dengan para pendengar yang hadir.

Beberapa kali ketika T-Koes melontarkan untuk request lagu dari pun mampu diresponi oleh penonton. Sejurus ketika penawaran itu dibuka, penonton di deretan balkon atas berteriak meminta lagu Diana. Ketika pengunjung yang berada di deretan sebelah kiri panggung mendengar T-Koes membuka kembali request maka Nusantara IV pun diminta demikian seterusnya sehingga terjadi komunikasi yang baik Antara penampil dengan penontonnya. Bahkan saat lagu dari album Pop Melayu Koes Plus disajikan pun mereka mampu mengajak penonton untuk berjoget mengikuti lagu Mengapa dan Tul jaenak.

Acara yang dimulai pada pkl. 19.30 itu berakhir menjelang pkl. 21.30 dengan suasana ceria dan gembira. Para personel T-Koes yaitu Galih, Jim, Jalu dan Agusta pun merasa puas dalam penampilan perdana mereka di Surabaya ini. Sekalipun ini bukan kunjungan pertama mereka di kota Pahlawan, mengingat tiga tahun sebelumnya hanya singgah semalam tapi tidak melakukan pementasan. Sekalipun keberadaan sarana alat-alat pendukung sebelumnya dikeluhkan karena ada beberapa kekurangan, namun melihat respon pengunjung yang menikmati penampilan mereka dengan antusias, segala kekurangan itu menjadi bukan lagi persoalan yang utama. Selanjutnya mereka akan bertolak ke Malang yang merupakan kampung halaman Agusta untuk melakukan pementasan bersama komunitas penggemar Koes Plus setempat.

Adapun lagu-lagu yang disajikan oleh T-Koes yaitu : Laguku Sendiri, Jangan Memaksakan Diri, Selalu, Manis dan Sayang, Bus Sekolah, Diana, Andaikan Kau Datang, O La La, Kolam Susu, Buat Apa Susah, Why Do You Love Me, Nusantara IV, Dara Manisku, Ojo Nelongso, Mawar Bunga, Jemu, Manis dan Sayang (by Subagio HS), Mengapa, Tul Jaenak, Kisah Sedih di Hari Minggu, Bujangan, Pelangi, Kapan-Kapan.

Demikian yang dapat kami sajikan mengenai penampuilan T-Koes sebuah band pelestari ibu kota yang singgah di kota Surabaya. Maju terus untuk T-Koes, apapun badai yang menghantam dari luar tetaplah tegar setegar batu karang di tengah lautan.

( Okky T. Rahardjo, penggemar Koes Bersaudara & Koes Plus dari Surabaya, 085645705091 )

Selasa, 14 Oktober 2014

KS Plus, Sukses Menggoyang Penggemar Koes Plus Madiun







Sabtu, 11 Oktober 2014 menjadi salah satu hari yang istimewa bagi penggemar Koes Plus Kota Madiun. Betapa tidak, saat itu penggemar Koes Plus kota Brem tersebut sedang merayakan hari jadi Komunitas Penggemar Koes Plus (KPK) sebuah wadah yang menjadi naungan bagi penggemar Koes Plus dan Koes Bersaudara di wilayah Kota Madiun.

KPK Madiun merayakan hari jadi kedua yang bertepatan juga dengan hari jadi ketiga rumah makan Selendang Biru, sehingga saat itu perayaan ulang tahun tersebut dipusatkan di rumah makan yang terletak di jl. Pringgodani tersebut. KPK yang resminya berdiri pada 18 September 2012 tampaknya sudah mempersiapkan diri secara matang untuk memperingati berdirinya perkumpulan penggemar Koes Plus tersebut. Hal itu terbukti dengan hadirnya beberapa perwakilan penggemar dari beberapa kota lain.

Dalam kaitan perayaan hari jadi terebut, KPK madiun bekerja sama dengan Selendang Biru menghadirkan KS Plus, band pelestari dari kota Boyolali, Jawa Tengah. Malam itu KS Plus sudah bersiap diri menghibur penggemar Koes Plus dari Madiun dan sekitarnya sejak naik panggung sekitar pkl. 20.15. KS Plus malam itu tampil dengan formasi lengkap yaitu Glondong (rhytym/lead vocal),  Gilang (keyboard&melody gitar), Handoyo (bass) dan Triono (drum) mencoba menghormati undangan dengan mengenakan pakaian yang rapi berbalut jas warna gelap.
KS Plus merupakan sebuah band pelestari yang berusaha menghadirkan sosok Koes Plus darui sisi lain. Artinya, mereka berani tampil dengan menawarkan lagu-lagu Koes Plus di luar yang mainstream. Oleh karena itu sangat jarang sekali KS Plus membawakan lagu-lagu Koes Plus yang populer. Kondisi ini membawa keuntungan tersendiri bagi penggemar level komunitas yang ingin dipuaskan dengan lagu-lagu Koes Plus di luar “yang itu-itu saja”. Sementara bagi KS Plus hal ini membawa misi untuk melestarikan lagu-lagu Koes Plus secara keseluruhan. Akan tetapi batasan bagi KS Plus tetaplah lagu-lagu Koes Plus yang direkam hingga tahun 1987, karena lagu-lagu yang direkam hingga pada tahun tersebut masih terasa originalitasnya. 

Glondong selaku vokalis mencoba memperkenalkan diri kepada para tamu mengenai keberadaan KS Plus. Pria bertubuh tinggi besar ini menyatakan bahwa KS Plus berarti Kota Susu yaitu mengingatkan kota asal mereka Boyolali. Di sisi lain KS memiliki makna Kolam Susu yaitu merujuk pada salah satu lagu Koes Plus yang populer. Selain itu KS juga mengingatkan pada sosok Koeswoyo Senior selaku ayah dari personel Koes Bersaudara. Pada awalnya, sebagaimana dakui oleh Glondong, KS memiliki makna Koes Story namun karena berbau kebaratan dan atas saran dari personel Koes Plus maka KS pun berganti makna yang lebih bernuansa Indonesia.

Malam itu KS Plus benar-benar menghadirkan nuansa Koes Plus melalui permainan musik yang rapi dan tidak meleset jauh dari rekaman aslinya, kekompakan personel  serta pembagian vokal sesuai lagu yang dibawakan oleh masing-masing personel. Sebagai contoh ketika sang vokalis mengambil bagian untuk bernyanyi, maka dia berbuat peran sebagaiman Yon Koeswoyo dengan menyanyikan lagu-lagu macam Kemari, Haru dan Bahagia, Sepi dan Hampa atau Gadis Manis yang beriramakan keroncong. Sedangkan lagu-lagu Yok Koeswoyo diambil alih oleh Handoyo dengan mendendangkan lagu macam Kolam Susu, My Lady dan Tertunda.

Bintang panggung KS Plus malam itu layak ditujukan pada Gilang yang benar-benar maksimal menjalankan peran sebagai Tonny Koeswoyo. Sambil memainkan gitar di atas dada dan beraksi mangap-mangap di hadapan penonton membuat para undangan yang menjadi saksi mata terkesima oleh penampilan Gilang yang merupakan personel paling muda dalam grup KS Plus. Gilang pun menyuarakan lagu-lagu Tonny Koeswoyo dengan baik semacam Bertemu Kembali, Rata-Rata dan Waktu Cepat Berlalu. Tak ketinggalan sang drummer pun ikut menyumbangkan suaranya melalui lagu Si Rambut Panjang yang  dalam rekaman aslinya dinyanyikan oleh Nomo Koeswoyo dalam album  Koes Bersaudara 1986.

KS Plus merupakan sebuah band pelestari yang menjadi fenomenal dan tidak bisa dipandang mata keberadaannya. Di tengah hiruk pikuk anak-anak muda yang memainkan lagu terkini dengan berbagai kreasi, mereka hadir dengan membawa originalitas khas Koes Plus. Sebuah keberanian melawan arus yang luar biasa dan menjadi alternatif tersendiri di tengah menjamurnya band pelestari lain yang berada di ibu kota. Bahkan yang unik, sebagai lagu pembuka KS Plus memilih membawakan lagu Kuingat-Ingat yang diambil dari album Asmara. Berbeda dengan sebagian band pelestari lain yang membawakan laguku Sendiri sebagai pilihan lagu pembuka penampilan.

Secara keseluruhan perayaan hari jadi KPK berlangsung dengan baik dan lancar, semakin meriah dengan hadirnya beberapa tau perwakilan penggemar Koes Plus dari beberapa kota tetangga. Diantaranya hadir dari Magetan, Ngawi, Malang, Surabaya, Sidoarjo dan Gresik. Bahkan H. Koestono selaku mantan pengawal Koes Bersaudara serta Koes Plus juga hadir di tengah-tengah penonton. Sebagai sebuah penyelenggaraan yang dilakukan oleh manusia tentu tidak luput dari berbagai kekurangan. Hal itu tampak dari sound system yang kelihatannya kurang bekerja dengan maksimal sehingga membuat vokalis KS Plus beberapa kali tampak gelisah dengan keberadaan mik yang disediakan oleh panitia. Penampilan KS Plus sempat terhenti sejenak dengan naiknya ke atas panggung koordinator JN Wilayah Jawa Timur yang menjelaskan eksistensi Jiwa Nusantara serta rencana penyelenggaraan pemecahan rekor MURI lagu-lagu Koes Plus pada bulan November.

Demikian yang dapat kami sajikan mengenai penampilan KS Plus dalam rangka hari jadi kedua KPK Madiun yang dikoordinasi oleh Tri Cahyono. Mohon maaf atas segala kesalahan data maupun kata dalam penyajian tulisan ini. Selamat ulang tahun untuk KPK Madiun, tetap berjuang dalam pelestarian Koes Plus. Salut untuk KS Plus tetap semangat dalam mengobarkan originalitas Koes Plus di manapun berada. Jayalah selalu musik Indonesia !

( Okky T. Rahardjo, penggemar Koes Plus dari Surabaya—085645705091 )

Sabtu, 02 Agustus 2014

Edisi Seniman Surabaya : Cak Markeso, Fenomena Ludruk Garingan

 


              “le tole kowe takon, takon opo tak sauri
              Opo kowe durung kenal, Ki Markeso soko Wetan..”

Siang itu sebuah tape kecil saya tekan tombol play yang posisinya sebelah tombol merah bertuliskan record. Sebuah nyanyian terdengar merdu diperdengarkan oleh duet Sofyan dan Said dari Usman Bersaudara. Baris demi baris lagu itu terdengar menarik dan membawa seuntai kenangan masa silam yang tak terlupakan. Kala saya melihat judul lagu itu pada cover kaset tertulis Cak  Markeso.

Markeso adalah sebuah fenomena seorang seniman ludruk yang legendaris di kota Surabaya. Mungkin saat ini tidak banyak anak-anak muda yang mengenal nama ini. Sebagian besar bila ditanyakan mengenai seniman ludruk Surabaya tentu akan mengaitkan dengan nama Kartolo. Namun bertahun-tahun sebelum Kartolo melejitkan dirinya sebagai seniman ludruk, Markeso sudah lebih dulu menancapkan tajinya sebagai pendekar ludruk yang mumpuni di Kota Pahlawan ini.

Markeso sendiri bukanlah seorang seniman ludruk yang memiliki grup ludruk sebagaimana pelaku kesenian ini lainnya. Bila nama-nama seperti Kartolo, Sapari, Basman dan Tini berada dalam satu grup ludruk. Demikian juga dengan nama Kancil, Markuat, Sidik, dan Agus Kuprit pun berada dalam kubu ludruk yang lain. Tidak demikian dengan Markeso yang memilih berada dalam jalur solo karier. Artinya dia menekuni dunia ludruk secara sendirian. Tanpa ada teman dalam sebuah grup atau pengiring yang demikian banyak. Belakangan apa yang digelutinya ini disebut dengan nama ludruk garingan. 

Memang tidak secara langsung Markeso menekuni jalur solo dalam dunia ludruk ini. Sebelumnya dia sempat tergabung dalam beberapa grup yang berganti-ganti, sebagaimana para pelaku ludruk lainnya. Namun dia jengah ketika melihat para pelaku ludruk sering kali terlibat konflik karena merasa tidak adil dalam pembagian honor. Darah seninya yang mengalir deras seakan tak terima bila harus ribut hanya karena masalah keuangan dengan orang lain. Oleh karena itu pula pada tahun 1949, Markeso memutuskan untuk mengundurkan diri dari grupnya “Ludruk Cinta Massa” yang saat itu sudah populer. Nama Markeso yang sedang naik daun pun menjadi jaminan mutu untuk dia melakoni profesi ludruk secara seorang diri. Ludruk garingan ini sempat dikenal masyarakat luas pada era tahun 1960an. Saat itu banyak orang dari berbagai kalangan yang nanggap  Markeso untuk bermain ludruk di berbagai tempat hajatan. Bahkan tukang becak pun saat itu yang penghasilannya memang banyak, sering memakai jasanya untuk menghibur. Perkawinan, sunatan maupun pesta-pesta keluarga sering memanggil Markesi sebagai pengisi acara. Bahkan ketika orang-orang berkumpul untuk minum tuak pun juga kerap nanggap ludruk garingan termasuk Markeso. Saat itu hampir setiap malam jadwalnya penuh. Masa kejayaan ini dirasakan hingga dasawarsa 70an.

Ludruk garingan sendiri merupakan istilah untuk seorang pelaku ludruk yang bermain sendirian. Sebagian orang menyebutnya sebagai ludruk tunggal karena hanya menampilkan seseorang yang menembangkan jula juli dan melontarkan lawakan secara sendirian. Bagaimana dengan musiknya, gamelan yang terdiri dari berbagai perangkat itu pun disuarakannya secara monolog melalui satu mulut yang sama. Urusan pembagian honor pun relatif lebih damai karena tidak perlu ribut membagi dengan orang lain. Lebih hemat dan ringkas bagi siapa pun yang mengundangnya. Mungkin kalau untuk ukuran saat ini bisa disamakan dengan orang yang memainkan musik organ tunggal yang bisa meramu semua musik dari pada mendatangkan sebuah grup band. 

Memasuki dekade 80an, sudah sedikit pelaku ludruk garingan ini. Markeso yang semula mengawali bentuk baru berkesenian ini, berikutnya harus menjadi satu-satunya orang yang bertahan menekuninya di tengah kota Surabaya yang saat itu sudah bersolek menjadi kota metropolitan. Di usianya yang makin renta dia harus menelusuri kampung ke kampung, masuk gang satu ke gang lainnya. Tujuannya satu, mencari orang yang memanggilnya untuk ditanggap menghibur dengan ludruk garingannya. Namun saat itu semua tak mudah dilakoninya seperti puluhan tahun sebelumnya. Tukang becak pun sudah tidak menggunakan jasanya lagi karena lebih banyak kalangan mereka yang lebih suka menekuni judi domino untuk menghabiskan uang. Para pengusaha yang mulai mapan pun sudah mulai memakai peralatan modern untuk menghibur diri.

Penampilan Markeso dalam mencari order ludrukan mudah sekali dikenali. Menggunakan kopiah hitam dan jas tanpa lengan menyelubungi batik yang selalu disandangnya. Pada bagian pinggang Markeso melilitkan sebuah sarung di luar celana panjang warna terang yang dikenakannya. Sepatu hitam jenis big boss selalu ada di kakinya mengiringi perjalanan dinasnya setiap siang dan sore hari itu. Tak lupa sebuah kaca mata rayband pemberian temannya selalu dipakainya untuk menutupi matanya yang juling sebelah itu. pada tahun 90an, penampilan Markeso ini dilengkapi dengan sebuah tongkat untuk memudahkannya melangkahkan kaki.

Markeso pun pernah pula menjajal dunia rekaman dengan menjadi bintang tamu pada salah satu album lawakan Kartolo Cs. Saat itu mereka merekam sebuah lawakan berjudul “Kebo Nusu Gudel”. Yang secara harafiah berarti orang tua berguru pada yang lebih muda. Saat itu Kartolo sedang mencapai masa kejayaan dan Markeso pun harus rela mengikuti tawaran beradu lawak dengan tokoh ludruk yang lebih muda darinya itu.

Materi ludrukannya pun tidak lepas dari situasi konflik yang terjadi di kalangan masyarakat. Seputar masalah keluarga, tukang becak yang kalah berjudi tapi takut pulang ke rumah, kisah orang kaya baru, kehidupan bertetangga dan berbagai kisah kehidupan keseharian lainnya. Tidak sekali pun dia mau mengangkat masalah politik maupun hal-hal yang menyangkut pribadi orang lain seperti agama dan kesukuan. Hal inilah yang juga diteladani oleh Kartolo, seniman ludruk generasi berikutnya yang eksis hingga hari ini.

Salah satu parikan Markeso yang terkenal berbunyi sebagai berikut Sandale nilek, klambine ijo Areke esek, pancen gak duwe bojo. Bahkan Markeso pula yang melontarkan ucapan khas berbunyi “Kulo niki sinten” yang belakangan digunakan oleh Usman dalam rekaman lagunya baik dalam grup Usman Bersaudara maupun bersama No Koes. Keberadaan Markeso boleh disejajarkan dengan nama Cak Durasim, seorang seiman ludruk legendaris yang dihukum mati karena kritis terhadap masa pemerintahan penjajah Jepang. Kalangan seniman Surabaya pun sempat memberikan tambahan Cak untuk melengkapi panggilan pada nama Markeso sehingga populer menjadi Cak Markeso sebagaimana pelaku ludruk lain yaitu Cak Sidik, Cak Kancil atau Cak Kartolo.

Pada sekitar tahun 1992, keluarga kami yang saat itu tinggal di jl. Krukah Timur pun suatu kali pernah nanggap Markeso yang kebetulan sedang melintas di depan rumah yang terletak di seberang Kalisumo itu. saat itu ketika kakek kami sedang bersantai di teras rumah, melihat sosok pria tua ini melangkah dengan dipandu tongkat kayu kesayangannya. Segera saja setelah mengenali pria yang berjalan ini dipanggilnya dengan berteriak “Markeso..Markeso..” persisi seperti orang yang memanggil penjual makanan lewat. Markeso pun datang ke rumah kami dan melakukan tugasnya menghibur melalui ludruk garingannya.

 Rumah kami pun kontan saja dipenuhi oleh tetangga-tetangga sekitar untuk melihat penampilan Markeso, lumayan gratis. Beberapa anak kecil pun duduk mengelilingi tempat Markeso melantunkan jula-juli dan dagelannya. Saat itu saya melihat kepiawaian Markeso menjalankan tugasnya sebaga seorang penghibur. Walaupun sendirian dan tidak berada di atas panggung yang besar, imajinasi kami seakan dibawa pada suasana panggung yang megah. Tiba-tiba saja dia berkata pada beberapa anak yang berada di depannya “Minggir..minggir, ojo ngidek kabel mengko kesetrum..”. Jelas saja itu hanya sebuah leluconnya, karena saat itu tidak ada satu kabel pun yang malang melintang di rumah kami mengiringi pementasannya.

Pembawaan Markeso yang khas berupa suara berat seperti bergetar memukau setiap orang yang menyaksikan penampilannya. Setiap kali dia mengawali kidungannya selalu membuka dengan sebuah ucapan salam yang dilanjutkan dengan kata “Muuuu....laaaiiiii” yang diucapkan dengan jenaka, membuat tertawa orang ayng mendengarnya. Berikutnya tersajilah kidungan demi kidungan dari mulut rentanya itu. acapkali di sela kidungannya, dia berhenti untuk menyela dan melontarkan guyonan khas seorang pemain ludruk. “sik..sik sarungku mlorot...” atau “anake sopo iku kok eleke..” demikian celetukan khasnya di sela kidungan yang dilagukannya.

Setelah peristiwa nanggap Markeso itu berlalu, jarang sekali saya mendengar berita tentang beliau. Sampai suatu kali saya melihat sebuah tayangan TVRI Surabaya yatu Rona-Rona yang diasuh oleh Didit Hape mengulas tentang tokoh Markeso. Saat itu digambarkan seniman ludruk ini berada di rumahnya dalam suasana yang begitu prihatin.Dia menghuni sebuah rumah kontrakan yang sudah lama dtinggalinya di jl. Putat Jaya, hanya menikmati fasilitas seadanya berdua bersama isteri tercintanya. Dia harus berjuang melawan penyakit tua yang dideranya yang menghambat lajunya untuk mencari rejeki dengan menjajakan kidungan. Dia pun harus meninggal dalam kondisi yang jauh dari hingar bingar pemberitaan di rumah yang terletak di komplek gang dolly itu.

Usman Bersaudara pun mengenang keberadaan Markeso ini melalui sebuah lagu karyanya yang direkam dalam album Pop Jawa volume 1 yang beredar pada tahun 1978. Saat itu di tengah lagu dimunculkan suara khas Markeso yang diucapkan oleh salah seorang personel band asal Surabaya ini. Tatkala lagu ini diperdengarkan melalui tape lusuh yang saya putar, ingatan saya menerawang kembali pada sosok Markeso yang pernah hadir memeriahkan jagad hiburan warga kampung di Kota Surabaya yang saat itu masih belum banyak dicemari oleh permainan digital seperti saat ini.

Hari ini ketika situasi hiburan di sekitar kita sudah dipenuhi dengan berbagai fasiliats canggih dan serba komputerisasi, adakah kita masih sempat mengingat walau sejenak tentang Markeso, seorang pejuang seni yang gigih membela eksistensi ludruk yang makin tergerus jaman ini. Markeso memang telah meninggalkan kita semua, namun karya dan semangatnya akan tetap  terus kita kenang dan teladani. Matur nuwun Cak Markeso.

Sayup-sayup lagu berjudul Markeso itu terdengar perlahan mengakhiri nyanyiannya sebagai berikut : “Sembah nuwun pak, kulo pun kenal..nami sampean jebule Pak Markeso..”.

( Okky T. Rahardjo, penikmat Kota Surabaya, 085645705091 )

Sabtu, 26 Juli 2014

Edisi Tradisi Surabaya : Prepegan, Tradisi Belanja Menjelang Lebaran






Menjelang peringatan hari raya Idul Fitri     selalu ada kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan berkembang di masing-masing daerah. Kebiasaan tersebut karena selalu terjadi berulang kali maka menjadi ciri khas masyarakat setempat bahkan bisa disebut sebagai sebuah tradisi. Kali ini kita akan melihat salah satu tradisi yang mengakar kuat di kota Surabaya pada setiap momen menjelang hari raya Idul Fitri.

Anda yang tinggal di JawaTimur secara umum, atau d kota Surabaya secara khusus pasti tidak asing dengan kata Prepegan. Sebuah kebiasaan yang sering terjadi pada menjelang perayaan hari raya Idul Fitri yang menjadi budaya lokal pada masyarakat setempat. Prepegan secara mudah bisa diartikan sebagai kebiasaan berbelanja besar-besaran menjelang jatuhnya hari raya Idul Fitri. Saat itu masyarakat berbondong-bondong untuk berbelanja di pasar tradisional guna memenuhi kebutuhan lebaran. 

Berbagai kebutuhan yang dibelanjakan diantaranya yaitu makanan ringan dan kebutuhan pokok yang disiapkan untuk menyambut tamu yang akan berkunjung di hari raya tersebut. Selain kebutuhan makanan, orang tua pun memberi perhatian untuk anak-anaknya dengan membelikan pakaian baru untuk dipakai di hari raya Idul Fitri. Biasanya baju baru yang dibeli tersebut sebagai hadiah karena telah menyelesaikan puasa dengan baik selama satu bulan. Bagi yang belum berpuasa, baju baru dimaksudkan untuk dipakai di hari lebaran yang biasanya identik dengan segala sesuatu yang bersifat baru.

Prepegan sampai saat ini masih berlaku di kalangan masyarakat daerah. Tradisi ini tidak hanya berlaku d kota Surabaya, namun juga di beberapa daerah lain di lingkup Pulau Jawa ini. Bisa saja istilahnya lain di tempat yang berbeda, namun biasanya menjelang pelaksanaan lebaran, orang akan memenuhi pasar tradisional untuk berbelanja besar-besaran. Prepekan sendiri pada umumnya terjadi pada H-3 dari jatuhnya hari raya Idul Fitri. Bahkan sering berlangsung sampai H-1. 

Di kota Surabaya tradisi Prepegan masih mudah ditemui oleh karena masyarakat masih belum bisa meninggalkan kebiasaan ini. Sebagai contoh, di Pasar Wiyung masyarakat akan memenuhi stand penjual Sembako dan kebutuhan makanan ringan.  Sementara di Pasar Benowo, warga banyak yang berbelanja baju baru baik untuk dirinya sendiri maupun anak-anak mereka. Saking banyaknya pembeli yang memenuhi pasar, maka pada H-2 biasanya Pasar Benowo akan memperpanjang jam tutup pasar sampai sekitar jam 12 atau 01.00 malam. Lain lagi tradisi yang berlaku di kalangan warga Lakarsantri. Prepekan seringkali diselenggarakan menyerupai pasar malam atau bazaar. Ketika sore dua hari menjelang lebaran, pedagang mulai menata barang dagangan yang berupa makanan ringan. Penjual tahu asin, bubur campur, roti goreng sampai es buah akan mudah ditemui di depan Pasar lakarsantri. Tidak hanya mereka yang menata dagangan, ada lagi golongan lain yang ikutan repot. Tampak berjajar di samping penjual makanan tadi sekelompok orang penawar jasa mainan. Mulai mandi bola, odong-odong, mobil berputar, pancing ikan plastik hingga penjual balon aneka tokoh kartun.

Prepegan bukan dimaksudkan untuk mengajak orang supaya konsumtif. Dalam Prepegan tetap mengandung nilai moral tertentu yang tidak boleh dilupakan. Melalui Prepegan warga diajak untuk bersyukur atas kemudahan dan kelancaran rejeki yang diterima, sehingga pada bulan Ramadhan masih mampu berbelanja yang nantinya juga akan digunakan untuk berbagi dengan sanak kerabat dan rekan lain yang berkunjung. Oleh karena bisa dipastikan banyak warga yang berbelanja, maka suasana pasar tradisional pun menjadi penuh sesak dan padat. 

Ketika berbelanja pun tidak bisa leluasa sebagamana hari-hari biasa. Orang akan berdesakan karena berhimpit dengan pengunjung yang lain. Walaupun demikian tidak ada satu pun yang akan saling menyalahkan atau ribut karena saling senggol. Semua akan menjadi saling memahami dan menyadari kondisi yang terjadi sehingga tetap senang-senang saja walaupun saling berhimpitan di dalam pasar. Sikap  toleransi inilah yang menjadi dasar nilai sosial dalam keberadaan tradisi Prepegan.

Nah, salah satu budaya lokal dalam masyarakat Surabaya menjelang lebaran sudah saya perkenalkan berupa Prepegan. Kira-kira kalau di tempat lain namanya apa ya ?

Demikian tulisan singkat mengenai tradisi menjelang Lebaran. Mohon maaf bila terdapat rangkaian kata dan kalimat yang kirang berkenan. Suwun yo !

( Okky T. Rahardjo, penikmat Kota Surabaya—085645705091 )


sumber gambar : www.trajukrakal.blogspot.com